sign up SIGN UP

Laporan Terbaru: Model Kerja Hibrida Picu Stres dan Masalah Kesehatan Mental pada Perempuan

Riswinanti Pawestri Permatasari | Beautynesia
Minggu, 29 May 2022 16:00 WIB
Laporan Terbaru: Model Kerja Hibrida Picu Stres dan Masalah Kesehatan Mental pada Perempuan
caption

Sejak pandemi Covid-19 menyerang dua tahun lalu, banyak aspek yang telah berubah dalam masyarakat, termasuk lingkungan kerja. Banyak perusahaan akhirnya menerapkan kebijakan WFH (Work from Home). Belakangan, setelah kondisi membaik, muncullah sistem kerja hibrida (hybrid working) yang memungkinkan karyawan bekerja di manapun (di kantor atau luar kantor) sesuai jadwal yang ditetapkan.

Model kerja ini memang memberikan keleluasaan terkait lokasi kerja dan disinyalir dapat meningkatkan produktivitas. Meski demikian, studi terbaru justru mengungkapkan bahwa sistem kerja hibrida justru memberikan dampak kurang baik pada perempuan karena laporan stres justru meningkat selama setahun terakhir.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Berikut ulasannya!

Mengenal Model Kerja Hibrida

Dampak Model Kerja Hibrida untuk Perempuan/Foto: Pexels.com/CoWomen
Dampak Model Kerja Hibrida untuk Perempuan/Foto: Pexels.com/CoWomen

Sebagaimana dijelaskan di atas, model kerja hibrida adalah sistem di mana karyawan dapat di kantor maupun secara remote secara bergantian sesuai jadwal yang ditetapkan. Selain untuk meminimalisir interaksi yang memicu cluster penyebaran penyakit, cara ini juga dipercaya dapat membantu karyawan menyegarkan pikiran sehingga tidak hanya berkutat pada suasana kantor.

Model ini juga menjadi solusi karena tidak semua perusahaan cocok dengan sistem remote atau WFH sepenuhnya. Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa cara ini juga menuai risiko, seperti kuota internet yang besar, sulitnya pengawasan, dan banyaknya distraksi kerja.

Kendala Bagi Perempuan

Dampak Model Kerja Hibrida untuk Perempuan/Foto: Pixabay.com/Gerd Altmann
Dampak Model Kerja Hibrida untuk Perempuan/Foto: Pixabay.com/Gerd Altmann

Sistem hibrida ini sekilas memang menjadi solusi bagi mereka yang ingin bekerja secara fleksibel. Meski demikian, bagi perempuan, hal ini tidak selalu mudah karena umumnya banyak distraksi yang harus dihadapi.

Bekerja di rumah mungkin membuat mereka tidak fokus karena harus membagi dengan urusan rumah tangga. Selain itu, perilaku penghuni lain dalam rumah mungkin justru akan menghambat produktivitas. Berkerja di luar pun tak selalu mudah karena mereka harus mampu menemukan lokasi yang mendukung iklim kerja.

Berpengaruh pada Kondisi Mental

Dampak Model Kerja Hibrida untuk Perempuan/Foto: Pexels.com/Kampus Production
Dampak Model Kerja Hibrida untuk Perempuan/Foto: Pexels.com/Kampus Production

Kendala yang dianggap remeh nyatanya berpengaruh besar terhadap perempuan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Deloitte Global, hampir 50 persen perempuan di seluruh dunia mengalami tingkat stres dan kelelahan dalam taraf yang mengkhawatirkan. Studi ini dilakukan pada 5.000 perempuan di 10 negara untuk mengetahui dampak model ini selama 12 bulan terakhir.

Para perempuan tersebut mengeluhkan kelelahan yang luar biasa sehingga mereka memutuskan mengambil cuti untuk memulihkan kondisi. Beberapa keluhan lain yang muncul adalah merasa kurang terlibat dalam rapat dan pengambilan keputusan penting sehingga khawatir hal ini akan mempengaruhi karier mereka ke depannya.

Meningkatnya Kesenjangan Gender

Dampak Model Kerja Hibrida untuk Perempuan/Foto: Pexels.com/ANTONI SHKRABA
Dampak Model Kerja Hibrida untuk Perempuan/Foto: Pexels.com/ANTONI SHKRABA

Sebagaimana dilaporkan oleh World Economic Forum (WEF), keterlibatan perempuan dalam posisi penting perusahaan hingga kini masih mencapai 27 persen. Hal ini diperparah dengan munculnya pelecehan dan agresi mikro yang dialami perempuan dalam iklim kantor. Sedihnya, kondisi ini semakin meningkat seiring diterapkannya pola kerja hibirida.

Laporan Deloitte Global mengungkapkan bahwa tingkat pelecehan terhadap perempuan, baik dalam bentuk hinaan, candaan yang menjurus seks, diskriminasi, dan lain-lain meningkat hingga hampir 2/3 kali lipat selama 12 bulan terakhir. Semakin banyak perempuan yang melaporkan perlakuan tidak menyenangkan dari kaum pria selama setahun terakhir.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki terkait lingkungan kerja untuk perempuan. Saat ini sudah banyak perusahaan yang memberikan fasilitas khusus dan pengamanan untuk kelompok perempuan potensial agar terhindar dari masalah kesenjangan gender maupun stres di tempat kerja. Meski demikian, masih banyak masalah yang menjadi kendala bagi karier perempuan dan harus diatasi bersama.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id