sign up SIGN UP

Marak Pelecehan Seksual, Anak Kecil Juga Punya Otoritas Tubuh, Jangan Asal Pegang dan Sentuh!

Nadya Quamila | Beautynesia
Kamis, 30 Jun 2022 09:00 WIB
Marak Pelecehan Seksual, Anak Kecil Juga Punya Otoritas Tubuh, Jangan Asal Pegang dan Sentuh!
caption
Jakarta -

Belakangan ini masyarakat Indonesia digemparkan oleh maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak. Kasus pelecehan terhadap anak memang selalu menjadi sorotan. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ada 11.952 kasus kekerasan anak yang tercatat oleh Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni) sepanjang tahun 2021.

Kasus Pelecehan terhadap Anak di Gresik: Sempat Dianggap Bukan Pelecehan Karena Korban Tidak Menangis

Baru-baru ini viral di media sosial potongan video dari rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang pria mencium anak di bawah umur di Gresik. Tidak hanya kasus pelecehan seksual yang terjadi yang bikin netizen geram, namun tanggapan polisi setempat yang sempat mengatakan bahwa kejadian tersebut bukanlah suatu pelecehan juga mendapat kritik dan kecaman.

Kapolsek Sidayu Iptu Khairul Alam sempat mengatakan bahwa kejadian pria mencium anak di bawah umur tersebut bukan termasuk bentuk pelecehan. Menurutnya, pelecehan seksual terjadi ketika pelaku membuka baju korban.

pelecehan anak di gresikpelecehan anak di gresik/ Foto: Tangkapan layar

Tak hanya itu, Khairul juga menyorot sikap si anak yang lebih terlihat diam. Apalagi, si anak tidak ada perlawanan sama sekali kepada pelaku. Anak perempuan berkerudung tersebut juga tidak menangis. Hal ini yang membuatnya menilai tindakan pria tersebut bukan merupakan pelecehan.

"Dia (si anak) itu juga nggak nangis. Kalau nangis kan waktu itu seketika juga orang tuanya tahu. Menurut saya, (pelaku) tidak melakukan pelecehan," sebut Khairul, dikutip dari detikJatim. Usai melontarkan pernyataan tersebut, Khairul mengaku salah dan meminta maaf.

Pelecehan Seksual di Mal Bintaro, Pelaku Colek-colek Anak

Berselang beberapa hari usai kasus di Gresik, muncul kasus pelecehan terhadap anak di sebuah mal kawasan Bintaro yang viral di media sosial. Seorang pria berinisial ABS (33) diduga mencolek-colek beberapa anak.

Kasus pelecehan tersebut awalnya diunggah di Instagram oleh seorang ibu yang anaknya menjadi korban, @misisdevi. Ia menceritakan bahwa pria tak dikenal tersebut tiba-tiba mencolek area perut bagian bawah sang anak. Tidak terima, Misis Devi pun langsung mengejar pelaku.

Setelah melakukan pengejaran yang menegangkan, akhirnya pelaku terkepung dan dibawa ke kantor security. Pelaku dimintai KTP, namun ia menolak. Selama menulis surat aduan, pelaku sempat melontarkan kalimat hinaan kepada Misis Devi, hingga menerima ancaman pembunuhan.

Setelah ditelusuri, rupanya pelaku diduga adalah Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Orangtua pelaku pun meminta maaf. Hingga saat ini, Misis Devi membantah bahwa kasusnya berakhir damai, melainkan hanya 'di-hold' untuk sementara waktu. Menurutnya, belum ada keterangan dari psikiater yang menyebutkan bahwa pelaku ODGJ sehingga menurutnya laporannya 'di-hold' dulu.

[Gambas:Instagram]

Kegigihannya dan semangatnya dalam memperjuangkan keadilan bagi sang anak mendapat dukungan dari banyak netizen. Meskipun begitu, Misis Devi mengakui bahwa banyak juga yang menganggapnya berlebihan alias lebay. Ia mengungkapkan bahwa ketika anak disentuh oleh orang asing tanpa izin, itu bukanlah sekadar 'hanya disentuh'.

"Anak kita mendadak dicolek oleh orang asing, itu bukan sekedar "HANYA DICOLEK". Anak kita mendadak dipegang bagian tubuhnya selain alat vital oleh orang asing, itu bukan "HANYA DIPEGANG DI PERUT", "HANYA DIPEGANG DI TANGAN", "HANYA DIPEGANG DI PAHA", "HANYA DIPEGANG DI PIPI"," tulisnya di akun Instagramnya.

"Kata "HANYA" itu mengecilkan masalah yang sebenarnya. ANAK DISENTUH, DIPEGANG, DIRABA, DICUBIT OLEH ORANG ASING, ITU PELECEHAN! Apalagi tanpa ijin. Jangan menormalisasi Hal ini, sampai-sampai orang yang merasa terganggu saat disentuh oleh orang asing, akan merasa bersalah kalau MERASA TERGANGGU," tuturnya.

Anak Kecil Punya Otoritas Tubuh, Jangan Asal Pegang dan Sentuh!

Waspada child grooming/Foto: Freepik.com/ahmadcomputer88Ilustrasi pelecehan anak/Foto: Freepik.com/ahmadcomputer88

Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak pun memiliki otoritas atas tubuhnya. Perlakuannya pun harusnya sama; tidak boleh disentuh, dipegang, apalagi dicolek-colek tanpa izin.

Jika sentuhan fisik tanpa izin atau secara paksa kepada orang dewasa disebut pelecehan, maka hal tersebut tentu berlaku pula bagi anak kecil. Mungkin nak kecil belum memiliki kekuatan cukup untuk melawan sentuhan fisik tersebut. Namun, bukan berarti mereka tidak memiliki otoritas atas tubuhnya. Mereka berhak menolak sentuhan fisik yang tidak diinginkan.

Pada kasus pelecehan anak di Gresik, polisi sempat menyebut bahwa anak yang menjadi korban tidak menangis dan hanya diam usai dilecehkan, lantas tidak bisa disebut sebagai pelecehan. Padahal, anak bisa saja kebingungan dan takut, sehingga tidak tahu apa yang harus dilakukan. 

Kondisi ini sendiri dikenal sebagai tonic immobility, yaitu kelumpuhan sementara pada seseorang saat menghadapi ancaman intens, misalnya seperti pelecehan seksual. Korban merasakan ketakutan luar biasa sehingga susah berbicara dan susah bergerak sehingga stimulasi apapun tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya.

Teen woman with headache holding her head in her living room during the dayIlustrasi anak korban pelecehan/ Foto: Getty Images/ljubaphoto

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, atau biasa disapa sebagai Kak Seto, menyatakan masyarakat perlu disadarkan soal perilaku 'asal pegang-colek-cubit' anak kecil, meskipun perilaku itu tidak dilandasi motivasi seksual, melainkan sekadar gemas atau ekspresi kasih sayang belaka.

"Masyarakat perlu disadarkan, tidak boleh memegang, meraba-raba anak yang bukan saudaranya atau tanpa seizin orang tuanya," kata Kak Seto, dilansir dari detikNews.

"Mohon masyarakat juga sadar, kalau ada kekerasan terhadap anak dan kita diam saja tidak berusaha menolong atau melapor, itu bisa terkena sanksi pidana. Perlindungan anak itu tugas kita semua, bukan hanya aparat dan KPAI atau LPAI," kata Kak Seto.

Pada Pasal 82 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, orang yang membiarkan adanya perbuatan cabul diancam pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun dan denda maksimal bisa Rp5 miliar.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id