sign up SIGN UP

Viral Polisi di Gresik Sebut Pelecehan Terjadi Jika Buka Baju, Ini Definisi Pelecehan Seksual Menurut UU TPKS

Nadya Quamila | Beautynesia
Senin, 27 Jun 2022 14:00 WIB
Viral Polisi di Gresik Sebut Pelecehan Terjadi Jika Buka Baju, Ini Definisi Pelecehan Seksual Menurut UU TPKS
caption
Jakarta -

Beauties, baru-baru ini viral kasus pria cium anak di bawah umur di Gresik. Namun, netizen tidak hanya geram dengan kasus pelecehan seksual tersebut. Netizen juga mengkritik dan mengecam polisi yang menyebut bahwa kejadian tersebut bukanlah bentuk pelecehan seksual karena tidak sampai membuka baju korban.

Kapolsek Sidayu Iptu Khairul Alam sempat mengatakan bahwa kejadian pria mencium anak di bawah umur tersebut bukan termasuk bentuk pelecehan. Menurutnya, pelecehan seksual terjadi ketika pelaku membuka baju korban. Ia juga menyorot sikap anak perempuan yang terlihat diam dan tidak menangis ketika alami pelecehan. Hal tersebut membuatnya menilai bahwa tindakan pria tersebut bukan pelecehan.

Kapolsek Sidayu Iptu Khairul Alam kemudian meminta maaf atas ucapannya yang mengatakan bahwa kasus pria cium anak di bawah umur bukan termasuk pelecehan seksual. Ia mengaku hanya sepintas melihat video tersebut. Setelah melihat secara detail, ia mengatakan bahwa kejadian itu memang aksi pelecehan seksual.

Lantas, bagaimana bentuk dan definisi sesungguhnya dari pelecehan seksual pada anak? Simak ulasannya berikut ini!

Definisi dan Bentuk Pelecehan Seksual pada Anak Menurut UU TPKS

Waspada child grooming/Foto: Freepik.com/ahmadcomputer88Ilustrasi korban pelecehan/Foto: Freepik.com/ahmadcomputer88

Menurut naskah akademik Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) yang disusun Komnas Perempuan disebutkan bahwa pelecehan seksual merupakan istilah umum yang kerap digunakan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kekerasan seksual.

Artinya, tindakan pelecehan seksual itu merupakan bagian dari sejumlah kekerasan seksual yang bisa menimpa siapa saja dan semua golongan. Termasuk terhadap pria, perempuan, anak-anak, juga para disabilitas, seperti dikutip dari detikcom.

Tindakan pelecehan seksual bisa terjadi secara fisik maupun non fisik, dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Tindakan yang dimaksud termasuk juga siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Naskah akademik RUU TPKS menjelaskan dengan gamblang bahwa colekan atau sentuhan di bagian tubuh yang bersifat seksual, sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, termasuk dalam tindakan pelecehan seksual.

Dalam kasus pria mencium anak di bawah umur yang terjadi di Gresik, tindakan mencium sendiri merupakan bentuk pelecehan seksual. Korban sebenarnya merasa tidak nyaman, namun tidak mampu mengatakannya karena bisa jadi korban takut dan shock dengan kejadian yang dialaminya.

Meski Tidak Dilaporkan, Pelecehan Terhadap Anak Harus Ditindak

young adult hiding behing a piece of paper that says Ilustrasi korban pelecehan/ Foto: Getty Images/CareyHope

Dari kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur di Gresik, dikabarkan bahwa pihak keluarga tidak melaporkan kejadian tersebut. Polisi pun sempat tidak memproses lebih lanjut perbuatan pelecehan seksual tersebut. 

"Sudah ketemu orang tuanya, nggak mempermasalahkan. Saya nggak minta keterangan (ke orang tua korban), cuma ke sana. Orang tuanya nggak mau laporan," ungkap Khairul. Namun pada Kamis (23/6), pria pelaku pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, Buchori (49) akhirnya diamankan polisi.

Berdasarkan Undang-Undang 12/2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) pelecehan seksual terhadap anak dan disabilitas harus segera ditangani meski tidak ada laporan yang masuk ke pihak berwajib.

Hal itu sebagaimana disebutkan di Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2) UU TPKS yang berbunyi seperti di bawah ini, dikutip dari detikcom:

(1) Pelecehan seksual nonfisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan pelecehan seksual fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a merupakan delik aduan.

(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi Korban Penyandang Disabilitas atau Anak.

9 Jenis Kekerasan Seksual yang Diatur di UU TPKS

Parent is holding her little girls arm and is about to use violence. Representing child abuse and domestic violence.Ilustrasi kekerasan seksual/ Foto: Getty Images/iStockphoto/simarik

UU TPKS memasukkan sembilan jenis kekerasan seksual yang bisa dijerat pidana. Berdasarkan Pasal 4 Ayat (1), Tindak Pidana Kekerasan Seksual terdiri dari:

(1) Tindak Pidana Kekerasan Seksual terdiri atas:
a. pelecehan seksual nonfisik;
b. pelecehan seksual fisik;
c. pemaksaan kontrasepsi;
d. pemaksaan sterilisasi;
e. pemaksaan perkawinan;
f. penyiksaan seksual;
g. eksploitasi seksual;
h. perbudakan seksual; dan
i. kekerasan seksual berbasis elektronik.

Selain itu, TPKS juga meliputi:

1. Perkosaan

2. Perbuatan cabul

3. Persetubuhan terhadap Anak, perbuatan cabul terhadap Anak, dan/atau eksploitasi seksual terhadap Anak

4. Perbuatan melanggar kesusilaan yang bertentangan dengan kehendak Korban

5. Pornografi yang melibatkan Anak atau pornografi yang secara eksplisit memuat kekerasan dan eksploitasi seksual

6. Pemaksaan pelacuran

7. Tindak pidana perdagangan orang yang ditujukan untuk eksploitasi seksual

8. Kekerasan seksual dalam lingkup rumah tangga

9. Tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya merupakan Tindak Pidana Kekerasan Seksual

10. Tindak pidana lain yang dinyatakan secara tegas sebagai Tindak Pidana Kekerasan Seksual sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id