STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Mengenal Workaholic dan Risiko yang Akan Kamu Rasakan, Masih Berani 'Kegilaan' Kerja Setelah Ini?

Risma Oktaviani | Beautynesia
Sabtu, 04 Sep 2021 07:15 WIB
Mengenal Workaholic dan Risiko yang Akan Kamu Rasakan, Masih Berani 'Kegilaan' Kerja Setelah Ini?

Sepertinya, hampir semua orang akan setuju bahwa segala sesuatu yang berlebihan adalah hal yang tidak baik. Begitupun dengan seorang workaholic, yang terlalu menikmati dan menomorsatukan pekerjaan.

Sehingga akan merasa bersalah pada saat mereka luang, tidak ada waktu untuk kumpul bersama keluarga, apalagi untuk bersenang-senang. Kata workaholic sendiri diadaptasi dari kata "alkohol" yang menyiratkan perilaku kompulsif pada pola kerja yang dapat memberikan pengaruh buruk atau berdampak negatif.

Workaholic Sebagai Bentuk Kecanduan

kecanduan kerja
kecanduan kerja / freepik.com / yanalya

Istilah 'workaholic' dicetuskan pada tahun 1971 oleh psikolog Wayne E. Oates, yang merujuk pada "kebutuhan yang tidak terkendali untuk bekerja tanpa henti" sebagai kecanduan. Ciri-ciri seorang workaholic memiliki dorongan kompulsif batin untuk bekerja keras, memikirkan pekerjaan terus-menerus, dan merasa bersalah dan gelisah ketika mereka tidak bekerja.

Workaholism sering berjalan seiring dengan jam kerja yang panjang dan tidak mengenal waktu, berbeda dengan seorang pekerja keras yang dapat bekerja dengan serius namun tetap mampu membagi waktu untuk bersantai dan melakukan hal lain.

Risiko Menjadi Seorang Workaholic

resiko workaholic
resiko workaholic / freepik.com/ tirachardz

Jika kamu seorang workaholic, siap-siap jadwal tidurmu akan kacau dan mungkin akan berujung pada depresi. Menurut sebuah penelitian, seorang workaholic dua kali lebih mungkin mengalami depresi dan memiliki kualitas tidur yang lebih buruk daripada karyawan normal.

Bekerja secara berlebihan dapat mengganggu kesehatan kamu, baik secara fisik maupun secara mental, memengaruhi hubungan kamu dengan teman dan keluarga, mengurangi produktivitas kamu, membuat kamu kelelahan, dan yang paling parah mungkin meningkatkan resiko kematian.

Work Smart, Not Hard

kerja cerdas
kerja cerdas / freepik.com / wayhomestudio

Kerja keras bukanlah kunci kesuksesan. Untuk menjadi sukses dan mencapai apa yang menjadi tujuan hidup kamu, kerja keras memang diperlukan. Ada banyak orang yang bekerja lebih keras, jauh lebih keras, tapi tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan.

Entah itu naik gaji atau naik jabatan. Malah, bekerja terlalu keras hanya akan memberikan efek buruk terhadap tubuh kamu. Hal yang harus kamu lakukan adalah bekerja secara cerdas dan bijak.

Bekerjalah sesuai porsinya, pahami bahwa diri kamu juga perlu istirahat. Untuk menjadi seseorang yang produktif bukan berarti kamu harus bekerja secara terus menerus. Mulailah untuk belajar time management agar kamu mampu untuk mengurutkan skala prioritas dan memberikan waktu yang berharga untuk diri kamu sendiri.

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE