BILLBOARD
970x250

Sama-sama Toxic dan Mirip, Kenali Perbedaan Stonewalling dengan Silent Treatment

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Jumat, 01 Apr 2022 18:30 WIB
Sama-sama Toxic dan Mirip, Kenali Perbedaan Stonewalling dengan Silent Treatment

Stonewalling adalah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Gottman, seorang psikolog dari University of Washington sekaligus pendiri Gottman Institute. Istilah ini digunakan untuk menyebut perilaku memutus total komunikasi dengan seseorang.

Sebagian orang yang baru mendengar istilah tersebut mungkin bertanya-tanya tentang perbedaan antara stonewalling dengan silent treatment yang lebih familiar di ruang dengar publik.

Dilansir dari The Gottman Institute, kedua istilah tersebut memang memiliki beberapa kesamaan. Namun, ada poin yang menunjukkan perbedaan cukup besar antara perilaku stonewalling dibandingkan dengan silent treatment. Berikut ulasannya!

Unsur Kesengajaan

Stonewalling tidak dilakukan secara sadar/Foto: Pexels/Liza Summer
Stonewalling tidak dilakukan secara sadar/Foto: Pexels/Liza Summer

Meskipun orang yang menunjukkan perilaku stonewalling maupun silent treatment terlihat sama-sama menunjukkan tindakan menarik diri dari sebuah interaksi, terdapat perbedaan mendasar dari segi niat internal yang dirasakan pelaku.

Silent treatment merupakan tindakan yang dilakukan seseorang dengan sengaja ketika sedang mengalami konflik dengan orang di sekitarnya. Sementara itu, pelaku stonewalling tidak melakukan hal itu dengan sengaja meskipun mereka tampak mengabaikan dan menganggap lawan bicaranya tidak ada.

Penyebab

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, perilaku silent treatment disebabkan oleh kesengajaan pelaku dengan tujuan untuk menyakiti lawan bicaranya atau membuat dirinya merasa memenangkan konflik yang terjadi antara dirinya dan pihak lain.

Sementara itu, stonewalling disebabkan oleh fenomena yang dinamakan flooding atau diffuse physiological arousal (DPA).

Stonewalling disebabkan oleh fenomena DPA/Foto: Pexels/RODNAE Productions
Stonewalling disebabkan oleh fenomena DPA/Foto: Pexels/RODNAE Productions

DPA merupakan mekanisme pertahanan diri otomatis yang dilakukan oleh tubuh dan bertujuan untuk membuat pemilik tubuh bertahan dalam kondisi krisis atau darurat secara efektif.

Oleh karena itu, orang yang melakukan stonewalling biasa menunjukkan respons diam secara tiba-tiba.

Cara Mengatasi

Dari kedua poin sebelumnya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sulit membedakan stonewalling dan silent treatment hanya dengan berdasarkan ekspresi serta tindakan pelakunya semata.

Meskipun begitu, kedua kondisi tersebut bisa diatasi dengan cara memberikan waktu kepada pelaku stonewalling dan silent treatment untuk menenangkan diri sehingga nantinya bisa diajak berbicara dengan lebih rasional.

Stonewalling bisa diredakan dengan cara memberi waktu kepada lawan bicara untuk menenangkan diri/Foto: Pexels/Karolina Grabowska
Stonewalling bisa diredakan dengan cara memberi waktu kepada lawan bicara untuk menenangkan diri/Foto: Pexels/Karolina Grabowska

Jika kondisi stonewalling yang dilakukan lawan bicara kita tidak mereda sekalipun telah diberi waktu untuk berpikir dan menenangkan diri, langkah terbaik yang bisa dilakukan berikutnya adalah menemui konsultan atau terapis hubungan.

Hal ini dikarenakan terkadang seseorang perlu pihak ketiga untuk membantu mereka meregulasi fenomena flooding yang mereka alami dan mengembangkan komunikasi tentang perasaan dan kebutuhan mereka.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(fer/fer)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE