sign up SIGN UP

Sering Salah Kaprah, Ini 5 Mitos Soal Pelecehan Seksual yang Harus Berhenti Dipercaya

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 05 Apr 2022 23:30 WIB
Sering Salah Kaprah, Ini 5 Mitos Soal Pelecehan Seksual yang Harus Berhenti Dipercaya
caption
Jakarta -

Beberapa tahun belakangan ini, kasus pelecehan seksual marak terjadi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat belasan ribu kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan sepanjang tahun 2021 di Indonesia.

Namun di tengah maraknya kasus tersebut, sayangnya masih banyak mitos atau anggapan yang salah seputar terjadinya pelecehan seksual. Mitos-mitos ini pada akhirnya hanya akan merugikan korban karena bernuansa victim blaming atau menyalahkan korban.

Sering salah kaprah, berikut 5 mitos soal pelecehan seksual yang harus berhenti dipercaya, dihimpun dari berbagai sumber. Yuk, simak!

Seseorang Menjadi Korban Pelecehan Seksual Karena Pakaian yang Dikenakan

Kekerasan seksual, pelecehan seksualIlustrasi pelecehan seksual/Foto: Pexels.com/Keira Burton

Ketika ada kasus pelecehan seksual menyeruak ke permukaan, respon pertama yang masih sering dilontarkan oleh publik adalah, "baju apa yang dikenakan korban?". Jika korban mengenakan pakaian terbuka atau seksi, maka publik langsung percaya bahwa itu adalah kesalahan korban. Menurut mereka, berpakaian terbuka artinya 'mengundang' nafsu sehingga terjadi pelecehan seksual.

Penelitian menemukan bahwa korban pelecehan seksual bervariasi dalam penampilan, jenis pakaian, usia, dan perilaku. Faktanya, pakaian bukanlah penyebab pelecehan seksual. Kesalahan sepenuhnya ada pada pelaku. 

Hanya Perempuan yang Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Pelecehan Seksual di Metaverse/ Foto: Canva/dodidam10Ilustrasi pelecehan seksual/ Foto: Canva/dodidam10

Memang kebanyakan yang menjadi korban pelecehan seksual adalah perempuan, namun pria pun juga bisa menjadi korban. Siapa pun, tanpa memandang jenis kelamin, dapat menjadi korban pelecehan atau pelaku pelecehan.

Pelecehan seksual adalah kejahatan kekuasaan dan kontrol. Pelaku sering memilih orang yang mereka anggap paling rentan untuk diserang atau yang mereka yakini dapat mereka kuasai.

Pelaku Pelecehan Seksual adalah Orang yang Tidak Dikenal Korban

Hal ini adalah mitos. Faktanya, kebanyakan pelecehan seksual dan pemerkosaan dilakukan oleh seseorang yang dikenal korban.

Dilansir dari Golden West College, sebuah studi tentang viktimisasi seksual terhadap mahasiswi menunjukkan bahwa sekitar 90 persen korban mengenal pelaku yang melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Pelaku tersebut biasanya datang dari orang terdekat, seperti pacar, mantan pacar, teman sekelas, teman, kenalan atau rekan kerja. 

Jika Korban Tidak Melawan, Maka Bukan Pelecehan Seksual

Tonic Immobility Korban Pelecehan/ Foto: Canva/ Julia M CameronIlustrasi korban pelecehan seksual/Foto: Canva/Julia M Cameron

Ketika pelecehan seksual terjadi, korban akan ditanya mengapa tidak lari atau melawan. Terlepas dari apa yang mungkin ditayangkan di TV, kebanyakan korban pelecehan seksual di kehidupan nyata tidak berteriak atau melawan. Ini karena mereka mengalami tonic immobility, yaitu kelumpuhan sementara pada seseorang saat menghadapi ancaman intens, sebagaimana dilansir dari laman Portland Psychotherapy.

Karena tidak melawan atau lari, korban dianggap 'menikmati' pelecehan seksual yang dilancarkan oleh pelaku. Faktanya, segala bentuk pelecehan seksual adalah pengalaman yang menakutkan dan memalukan, di mana korban tidak memiliki kendali atas apa yang terjadi. Tentu tidak ada yang menikmati pengalaman seperti itu.

Pelecehan Seksual Akan Hilang Sendirinya

Hal yang harus dilakukan untuk korban pelecehan seksualIlustrasi korban pelecehan seksual/Foto: Freepik/userfreepik

Tak sedikit yang menganggap bahwa pelecehan seksual akan menghilang atau berhenti dengan sendirinya, maka diabaikan pun seolah menjadi solusi. 

Namun faktanya, mengabaikan kasus pelecehan seksual tidak akan membuatnya hilang dengan sendirinya. Penelitian telah menunjukkan bahwa perilaku mengabaikan itu tidak efektif; pelaku pelecehan umumnya tidak akan berhenti dengan sendirinya. Mengabaikan perilaku tersebut bahkan dapat dilihat sebagai bentuk persetujuan atau dorongan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id