sign up SIGN UP

Wacana Kebijakan Baru Soal Cuti Ayah dan Cuti Melahirkan Timbulkan Pro dan Kontra, Beauties Tim yang Mana?

Debby Diah Ekawati Erawan | Beautynesia
Kamis, 30 Jun 2022 19:45 WIB
Wacana Kebijakan Baru Soal Cuti Ayah dan Cuti Melahirkan Timbulkan Pro dan Kontra, Beauties Tim yang Mana?
caption

Saat ini, kabarnya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sedang mencanangkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) yang salah satu poin di dalamnya mengatur tentang kebijakan cuti ayah selama 40 hari.

Alasan dari adanya kebijakan ini adalah untuk kesejahteraan ibu dan anak bisa tercapai sesuai dengan tujuan pembangunan nasional. Cuti kerja ayah yang berlaku selama ini adalah lima hari, dengan adanya rencana ini akan berubah menjadi 40 hari.

Cuti Ayah 40 Hari/Foto: Freepik/pch.vector
Cuti Ayah 40 Hari/Foto: Freepik/pch.vector

Dilansir dari CNBC Indonesia, berikut kajian akademik RUU KIA: Untuk menjamin pemenuhan hak ibu, suami dan atau keluarga wajib mendampingi. Suami, berhak mendapatkan hak cuti pendampingan: a. melahirkan paling lama 40 (empat puluh) hari; atau b. keguguran paling lama 7 hari.

Tentunya hal ini mengundang banyak opini di kalangan masyarakat, ada yang senang dengan keputusan ini, baik itu dari sisi figur seorang suami dan juga dari sisi istri yang tentunya akan banyak terbantu selama masa pemulihan pasca melahirkan. Namun, ada juga pihak-pihak yang merasa keberatan dengan kebijakan ini. 

Apindo Keberatan dengan Kebijakan Cuti Ayah 40 Hari

Wacana Cuti Ayah Menimbulkan Banyak Opini/Foto: Freepik/senivpetro
Wacana Cuti Ayah Menimbulkan Banyak Opini/Foto: Freepik/senivpetro

Melansir dari CNN Indonesia, salah satu pihak yang keberatan dengan kebijakan RUU KIA adalah Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Apindo berpendapat bahwa saat ini dunia usaha sedang bangkit dari masa pandemi Covid-19, sehingga kebijakan tersebut akan membuat perusahaan sulit bertumbuh.

Kebijakan yang juga disoroti oleh Apindo bukan hanya mengenai cuti ayah tetapi juga soal hak cuti melahirkan kepada istri minimal enam bulan serta memberikan istri hak mendapatkan waktu istirahat 1,5 bulan atau sesuai dengan anjuran bidan atau dokter kandungan apabila mengalami keguguran.

Sebelumnya lamanya masa cuti melahirkan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja adalah tiga bulan. Myra Hanartani, Ketua Komite Regulasi dan Hubungan Kelembagaan DPN Apindo mengatakan bahwa DPR juga harus menyesuaikan kondisi di dalam negeri, untuk negara-negara yang diberi cuti banyak, mungkin karena negaranya sudah maju.

Menurut Myra, hal ini juga dikhawatirkan bisa memengaruhi tingkat partisipasi perempuan di dunia usaha. Misalnya jadi banyak pengusaha yang merasa lebih baik menerima pekerja pria, sehingga saat perempuan ingin masuk ke pasar kerja menjadi tidak bisa. Karena perusahaan tidak hanya kesulitan membayar gaji ibu yang sedang cuti, tetapi juga harus mengeluarkan biaya lagi untuk mempekerjakan orang mengisi posisi dari ibu yang sedang cuti.

Ternyata efeknya bisa sedemikian rupa bila melihat dari sisi pengusaha. Lantas, Beauties di tim mana, nih? Yang setuju dengan kebijakan ini atau sebaliknya? Share di kolom komentar, yuk!

---

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(fip/fip)

Our Sister Site

mommyasia.id