sign up SIGN UP

Studi: Hampir 50 Persen Perempuan di Dunia Mengalami Burnout, Apa Penyebabnya?

Sherley Gucci Permata Sari | Beautynesia
Selasa, 14 Jun 2022 22:00 WIB
Studi: Hampir 50 Persen Perempuan di Dunia Mengalami Burnout, Apa Penyebabnya?
caption

Beauties, apakah kamu termasuk orang yang sering mengalami burnout? Kini burnout memang menjadi salah satu isu kesehatan mental yang dirasakan oleh banyak orang, khususnya perempuan. Burnout sendiri merupakan kondisi kelelahan pada seseorang dan umumnya berkaitan dengan pekerjaan. Jika tidak segera disadari dan diatasi, burnout dapat berdampak pada kesehatan fisik, seperti sakit kepala, hingga gerd.

Melansir dari Women's Agenda, menurut studi terbaru dari Deloitte Global, ditemukan bahwa hampir 50 persen perempuan di dunia mengalami burnout. Penelitian tersebut mensurvei lebih dari 5 ribu perempuan yang bekerja di 10 negara yang menghasilkan temuan bahwa perempuan yang mengalami stres dan burnout di tempat kerja berada di tingkat yang mengkhawatirkan.

Bahkan, sepertiga perempuan dalam survei tersebut terpaksa mengambil cuti untuk mengatasi masalah kesehatan mereka tersebut. Hasil laporan tersebut menunjukkan rentannya perempuan yang bekerja mengalami burnout.

Pandemi Covid-19

Pandemicovid 19 menjadi faktor semakin parahnya burn out pada perempuan di dunia
Pandemi Covis-19/Foto: Freepik.com/freepik

Menurut hasil penelitian tersebut, kondisi para perempuan yang mengalami burnout semakin diperparah akibat pandemi Covid-19. Dua tahun lalu, tepatnya tahun 2020 seluruh dunia diguncang dengan masalah kesehatan global, yakni pandemi covid-19.

Virus tersebut menimbulkan banyak kekacauan yang menyebabkan seluruh orang harus melakukan banyak penyesuaian dalam hidup. Salah satu penyebab terjadi burnout yang dialami perempuan di seluruh dunia adalah model tempat kerja gabungan sebagai akibat dari pandemi covid-19. 

Model tempat kerja hibrida berkontribusi pada tingkat kecemasan perempuan. Dalam penelitian yang dilakukan Deloitte Global tersebut, dua pertiga perempuan melaporkan bahwa hal ini membuat mereka merasa tertutup dari rapat dan keputusan penting.

“Sementara cara kerja gabungan menciptakan peluang—termasuk, jika dilakukan dengan benar, memungkinkan banyak orang untuk mempertahankan fleksibilitas yang dapat diperoleh dari kerja jarak jauh, itu juga menciptakan risiko pengucilan bagi mereka yang tidak hadir secara fisik,” tulis para penulis, dikutip dari Women's Agenda.

bekerja dari rumah menjadi faktor stres dan kelelahan pada perempuan
Work from Home/Foto: Freepik.com/tirachardz

Hal ini juga diperkuat dengan adanya studi penelitian lain yang mensurvei hal yang sama pada perempuan di Amerika Serikat (AS). Dilansir dari Forbes, sebuah studi kolaborasi yang dilakukan oleh Berlin Cameron, Fair Play Eve Rodsky, dan Kantar, mensurvei lebih dari 1.000 karyawan di AS dan Inggris.

Penelitian tersebut menemukan 68 persen perempuan AS mengalami kelelahan dalam tujuh hari dibandingkan dengan pria yang hanya berjumlah 50 persen. Perempuan yang mengalami kondisi burnout juga disebabkan karena merasa tidak dimanfaatkan dalam pekerjaannya.

Ibu yang bekerja lebih rentan mengalami burn out
Ibu Bekerja Lebih Rentan Burn Out/Foto:Freepik.com/freepik

Pandemi Covid-19 semakin memperburuk gejala kelelahan pada perempuan yang diikuti dengan motivasi yang lebih rendah. Selan itu, dua kali lebih banyak perempuan dibandingkan pria juga dilaporkan merasa lebih terisolasi sejak pandemi. 

Kondisi perempuan yang mengalami burnout yang mengkhawatirkan umumnya banyak dijumpai pada ibu yang bekerja. Hal ini disebabkan oleh adanya kesenjangan gender dalam pembagian kerja domestik, terlebih dalam mengurus anak.  

Jika kamu mengalami burnout, jangan ragu untuk mengambil jeda untuk beristirahat dan menenangkan dirimu, ya, Beauties. Ingat, kesehatanmu adalah nomor satu!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id