sign up SIGN UP

Mengapa Perempuan Korban Kekerasan Seksual Sulit untuk Melapor?

Nisrina Salsabila | Kamis, 25 Nov 2021 22:30 WIB
Mengapa Perempuan Korban Kekerasan Seksual Sulit untuk Melapor?
caption

Komnas Perempuan pada 2020 menerima sebanyak 955 kasus kekerasan seksual yang terjadi di ranah rumah tangga/relasi personal, dunia pendidikan, dan institusi keagamaan. Namun bagaikan fenomena gunung es, angka tersebut tentu hanyalah separuh dari banyaknya kasus yang tidak terlaporkan atau malah dicabut untuk dilaporkan.

Padahal, aksi kekerasan seksual terhadap perempuan berpotensi dapat menghancurkan seluruh hidup korban, hingga ia merasa tak mampu melanjutkan hidupnya lagi. Kira-kira, apakah alasan mereka untuk terus memilih bungkam daripada melapor? Simak selengkapnya di bawah ini ya, Beauties!

1. Trauma Mendalam

Pada korban perkosaan misalnya, mereka bisa menderita trauma hebat secara psikologis akibat peristiwa tersebut, yang menyebabkan korban tidak mampu atau tidak bersedia untuk melaporkan kasusnya.

2. Dianggap sebagai “Aib” Keluarga

kekerasan seksual
Dianggap sebagai aib/Foto: Pexels.com/Kat Smith

Korban kekerasan seksual jarang menceritakan kejadian yang dialaminya karena merasa malu nama baiknya tercemar atau khawatir dianggap “aib”, “tidak suci” atau “tidak bermoral”. Bahkan, tak jarang masyarakat malah cenderung menyalahkan korban, mengucilkan korban, meragukan kesaksian korban atau mendesak korban untuk bungkam.

Situasi inilah yang mendorong korban dan keluarga untuk tidak melapor.

3. Merasa Takut pada Pelaku

Kondisi ini amat banyak terjadi pada kasus kekerasan terhadap perempuan di ranah rumah tangga (keluarga), relasi personal (pacaran), dan ranah publik (instansi pendidikan, tempat kerja, instansi keagamaan).

Perempuan korban biasanya selalu menutupi, tidak ingin mengakui apalagi melapor bahwa dirinya merupakan korban. Mereka tidak mau melaporkan sebab takut atas risiko ancaman dan pembalasan, atau juga merasa patuh karena takut lantaran si pelaku ialah sosok yang disayanginya, dihormatinya, atau dekat dengan dirinya.

4. Posisi Korban yang Diputarbalikkan

kekerasan seksual
Playing victim/Foto: Pexels.com/Alex Green

Memang seringkali kejadian di mana pelaku, dengan berbagai cara licik, justru memutarbalikkan situasi atau fakta demi menutupi kasus. Contohnya yaitu dengan mengancam balik korban atau membuat korban berpikir seolah-olah mereka tidak memiliki belas kasihan pada pelaku, tanpa mengingat bahwa pelaku sesungguhnya telah melakukan hal keji berulang-ulang.

Alhasil, korban yang seharusnya menuntut keadilan justru berada pada posisi tidak berdaya. Kasus pun berujung damai, tanpa penyidikan lebih lanjut.

5. Enggan Melewati Proses Hukum yang Berbelit-belit

Situasi ini bisa terjadi pada kasus perkosaan dan pelecehan seksual. Bila korban baru melaporkan kasus itu setelah sekian lama, tentu barang bukti akan semakin sulit diperoleh. Sehingga, proses penyidikan untuk menetapkan tersangka semakin berlarut-larut.

6. Budaya Mempersalahkan Korban

kekerasan seksual
Budaya mempersalahkan korban/Foto: Pexels.com/Anete Lusina

Sering terjadi perempuan korban malah dituduh memberi peluang terjadinya kekerasan seksual melalui cara ia berpakaian, berelasi sosial, bahasa tubuh, status perkawinan, pekerjaan atau karena keberadaannya pada suatu waktu atau lokasi tertentu. Bukan hanya itu, mereka yang dianggap tidak berupaya melawan pelaku juga kerap dituduh membiarkan peristiwa itu terjadi.

Akhirnya, korban sering merasa ia memang pantas mengalami kekerasan karena ia bukan perempuan baik-baik, kotor, dan berdosa.

7. Kurangnya Keberpihakan Hukum pada Korban

Sayangnya, perjuangan para perempuan korban kekerasan seksual untuk mendapat keadilan masih banyak menemui hambatan.

Kerap ditemui di belahan dunia mana pun, sikap aparat penegak hukum saat menghadapi korban malah tidak menunjukkan rasa empati. Mereka menganggap kasus yang dilaporkan sebagai kasus sepele yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan cenderung menghakimi korban melalui pertanyaan: “apa baju yang kamu pakai?”, “mengapa kamu pulang malam?”.

Oleh karena itu, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual mesti disahkan menjadi UU demi menciptakan sistem perlindungan yang komprehensif bagi korban kekerasan seksual.

_______________

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)

Our Sister Site

mommyasia.id