sign up SIGN UP

4 Rutinitas yang Bisa Dilakukan Anak Penyintas Pelecehan Seksual untuk Bantu Atasi Trauma

Risqi Nurtyas Sri Wikanti | Beautynesia
Senin, 25 Jul 2022 13:00 WIB
4 Rutinitas yang Bisa Dilakukan Anak Penyintas Pelecehan Seksual untuk Bantu Atasi Trauma
caption

Berbagai kasus pelecehan seksual terhadap anak sedang marak terjadi di beberapa lembaga pendidikan. Tidak tanggung-tanggung, pelakunya adalah orang penting di lembaga pendidikan itu sendiri. Misalnya seperti seperti anak seorang kiai di sebuah pondok pesantren di Jombang, Jawa Timur, atau pendiri sekolah Selamat Pagi Indonesia di Malang.

Para korban dari kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi akhir-akhir ini adalah anak-anak dan remaja di bawah umur. Satu hal yang paling miris adalah kasus pelecehan biasanya tidak hanya satu kali terjadi, namun berkali-kali. 

Pelaku akan mengancam para korban untuk tidak melaporkan kasus pelecehan seksual pada orang lain. Sehingga, mereka diliputi oleh ketakutan dan trauma yang mendalam akibat perlakuan bejat pelaku yang tidak bertanggung jawab.

Selain memberi hukuman bagi pelaku, yang tak kalah penting adalah memperhatikan kondisi korban pelecehan seksual untuk mengatasi trauma yang dialami. Selain mendapatkan bantuan dari tenaga profesional, ada beberapa rutinitas bagi anak penyintas pelecehan seksual untuk bantu atasi trauma.

Meskipun mungkin sederhana, namun bisa jadi punya efek besar dalam membantu untuk mengatasi trauma akibat kasus pelecehan seksual yang dialaminya. Dikutip dari Very Well Mind, yuk simak ulasannnya!

Memanjakan Diri Sendiri dengan Kegiatan Positif

Ilustrasi perempuan melakukan meditasi/ Foto: unsplash.com/Le Minh Phuong
Ilustrasi perempuan melakukan meditasi/ Foto: unsplash.com/Le Minh Phuong

Artian dari memanjakan diri sendiri dengan kegiatan positif adalah melakukan kegiatan yang memberikan fungsi positif bagi jiwa dan raga para penyintas pelecehan seksual. Satu hal utama yang bisa dilakukan adalah berolahraga dan bermeditasi untuk menenangkan pikiran.

Olahraga dan meditasi tersebut bisa dikombinasikan dengan melakukan gaya hidup sehat, yaitu dengan makan makanan sehat seperti sayuran dan buah-buahan. Selain itu, usahakan untuk mendapatkan istirahat yang cukup dari kegiatan yang dilakukan sehari-hari.

Penerapan kegiatan-kegiatan positif untuk memanjakan diri sendiri ini diharapkan bisa membantu mengatasi gejala kecemasan dan depresi yang biasanya dialami oleh para penyintas pelecehan seksual anak.

Satu hal penting lainnya adalah istirahat dari menonton berita di televisi atau membaca berita di internet dengan tujuan untuk mengontrol lingkungan. Ketika melihat berita tentang kekerasan seksual, hal ini nantinya malah akan mengingatkan pada memori kelam yang pernah dialami penyintas pelecehan seksual anak.

Jangan Berikan Tekanan pada Diri Sendiri

Ilustrasi perempuan menyendiri/ Foto: unsplash.com/Denys Nevozhai
Ilustrasi perempuan menyendiri/ Foto: unsplash.com/Denys Nevozhai

Beberapa penyintas pelecehan seksual anak ada yang kuat dan berani menceritakan kasus yang mereka alami. Hal ini dilakukan untuk membuat masyarakat bisa tahu bahwa kasus-kasus itu ada di sekitar mereka.

Apabila ada seorang penyintas pelecehan seksual anak yang sampai dia dewasa tidak mau menceritakan kasus yang dialaminya, itu normal. Perlu diingat bahwa tidak apa-apa untuk tidak membagikan kasus yang dialami pada orang lain.

Tidak perlu memberikan tekanan pada diri sendiri untuk bisa bercerita pada orang lain. Karena yang paling utama adalah kesehatan mental dan tubuh diri sendiri tanpa harus membagikan kisah kelam pada orang-orang.

Menulis Jurnal

Ilustrasi menulis jurnal/ Foto: pixabay.com/picjumbo_com
Ilustrasi menulis jurnal/ Foto: pixabay.com/picjumbo_com

Menulis jurnal adalah cara yang cukup efektif untuk mengekspresikan pikiran dan emosi. Seorang penyintas pelecehan seksual anak pastinya memiliki pikiran dan emosi yang tergolong rumit dan menyesakkan kalau dikatakan secara verbal.

Dengan menulis jurnal, mungkin bisa membantu mereka untuk lebih berani menceritakan apa yang sebenarnya ada di dalam diri mereka. Baik hal-hal negatif tentang mereka harus alami di masa lalu atau emosi yang masih terus berubah-ubah akibat trauma.

Membuka Diri pada Orang Terdekat

Ilustrasi bercerita dengan orang terdekat/ Foto: unsplash.com/Priscilla Du Preez
Ilustrasi bercerita dengan orang terdekat/ Foto: unsplash.com/Priscilla Du Preez

Ketika mengatasi trauma, para penyintas pelecehan seksual anak tidak harus melakukannya sendiri. Membuka diri pada orang terdekat yang terpercaya akan membantu mengurangi trauma walaupun itu sedikit demi sedikit.

Orang-orang terdekat itu bisa sahabat atau keluarga yang sehari-hari berinteraksi dengan mereka. Cara lain bisa juga membuka diri dengan melakukan hobi baru yang bermanfaat. Bermanfaat dalam artian bisa bersosialisasi dengan orang baru yang bisa membantu perkembangan mengatasi trauma.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id