Kental Akan Budaya Patriarki, 5 Stigma Ini Masih Eksis dan Menghambat Kemajuan Perempuan Indonesia

Camellia Quinita Ramadhani | Beautynesia
Selasa, 09 Aug 2022 09:15 WIB
Dianggap Harus 'Tunduk' pada Pria hingga Tidak Layak Jadi Pemimpin
Ilustrasi perempuan/Foto: Getty Images/iStockphoto/Youngoldman

Kemajuan zaman tampaknya belum banyak berkontribusi pada kesetaraan gender, khususnya bagi kesejahteraan perempuan Indonesia. masih banyak perempuan yang didiskriminasi dan dibekuk berbagai stigma yang sayangnya masih mengakar di masyarakat. Hadirnya stigma tersebut pada akhirnya membatasi ruang gerak perempuan, membuat mereka kesulitan untuk mengembangkan potensi sepenuhnya yang ada dalam diri.

Lantas, apa saja stigma-stigma yang masih dialami oleh perempuan Indonesia? Simak penjelasan berikut ini, yuk!

Perempuan Dihalangi Sekolah karena Dianggap Tugasnya Hanya Mengurus Rumah

Ilustrasi ruang kelas sekolahIlustrasi ruang kelas sekolah/ Foto: Getty Images/iStockphoto/tiero

Meski kemerdekaan dan modernisasi sudah dalam genggaman bangsa, sayangnya perempuan masih saja terbelenggu domestifikasi ala patriarki. Masih banyak yang beranggapan bahwa kemuliaan perempuan terletak pada pengabdiannya dalam melakukan pekerjaan rumah tangga.

Buntut panjang dari domestifikasi perempuan menjadikan mereka sering dihalang-halangi untuk menempuh pendidikan tinggi. Masih mudah ditemui perempuan pelosok yang sejak dini tidak minat bersekolah karena yakin bahwa peran domestik yang akan diembannya menjadikan pendidikan sia-sia untuknya.

Padahal, berpendidikan tidak melulu tentang meniti karir di masa depan, tapi juga membentuk karakter sebaiknya. Menjadi pribadi yang berpengetahuan adalah hak asasi setiap manusia yang bahkan sudah tercantum di Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 lho, Beauties. Maka, siapapun yang menghalang-halangi perempuan menempuh pendidikan, sejatinya telah melanggar dasar negara Indonesia.

Perempuan yang Berkarir Dicap Perempuan Gagal

Ilustrasi Perempuan Karir/Foto: Pixabay/Magnet.me
Ilustrasi Perempuan Karir/Foto: Pixabay/Magnet.me

Meski perempuan di Indonesia sudah bisa bebas menentukan langkah sendiri, bukan berarti keputusan mereka juga bebas dari sanksi sosial. Masih berkaitan dengan domestifikasi, perempuan di Indonesia yang lebih mengutamakan ambisinya dalam berkarier masih sering dicap sebagai perempuan gagal.

Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa perempuan yang berkarier akan memiliki lebih sedikit waktu untuk mengurus rumah tangganya. Bahkan stigma ini akan kian menjadi jika seorang perempuan lebih memilih bekerja dan tidak berkeluarga.

Padahal, setiap individu bebas untuk menentukan nasib dan pilihannya dalam hidup. Setiap keputusan yang diambil seseorang pasti berdasarkan pertimbangan matang dan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing, Menjadi seorang ibu yang juga bekerja adalah pilihan mulia karena ia memilih bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Menjadi seorang pekerja penuh tanpa menginginkan pernikahan dan anak juga merupakan hak perempuan, karena mungkin ada beberapa hal yang masih menjadi tanggung jawabnya. Jadi, tidak ada satu orang pun yang berhak memberi nilai buruk atas keputusan orang lain karena kita tidak pernah tahu beban apa yang harus mereka pikul.

Perempuan Dianggap Punya Kedudukan Lebih Rendah dari Pria

Ilustrasi Kesetaraan Gender/Foto: Freepik
Ilustrasi Kesetaraan Gender/Foto: Freepik

Perempuan dalam kultur patriarki selalu berujung pada posisi serba rugi. Ketika ingin dibebaskan berperan di ruang publik, perempuan selalu dicap kalah kompeten dengan pria sehingga dianggap lebih ahli dalam urusan domestik. Namun, ketika perempuan hanya fokus mengurus rumah tangga, mereka tetap tidak memiliki kendali penuh dalam pengambilan keputusan.

Sebagaimana masyarakat mengidentikkan peran pria sebagai pencari nafkah, pria dianggap memiliki peran penting untuk menyediakan sumber daya dan melindungi keluarga. Peran ini dianggap lebih krusial dibanding peran seorang ibu yang membereskan rumah, mengasuh, dan memasak, karena peran-peran tersebut dinilai tidak memiliki kontribusi di publik.

Di sinilah pentingnya menyebarkan gagasan kesetaraan gender di Indonesia, Beauties. Justru, pekerjaan domestik yang membutuhkan banyak tenaga nyatanya seringkali tidak mendapat upah sebagaimana mestinya. Malah perempuan seolah-olah dilahirkan bersama beban domestik tanpa upah selama hidupnya. Perlu dibangkitkan kesadaran bersama bahwa pekerjaan domestik dan pekerjaan di ruang publik sama pentingnya, dan peran ganda perempuan di ruang domestik dan ruang publik menjadikan perempuan sosok yang kuat dan bisa diandalkan.

Dianggap Harus 'Tunduk' pada Pria hingga Tidak Layak Jadi Pemimpin

Six women of different ages and body types holding bouquets while sitting in studio against a brown background

Ilustrasi perempuan/Foto: Getty Images/iStockphoto/Youngoldman

Perempuan Dianggap Harus Tunduk dan Melayani Pria

Ilustrasi Kesetaraan Gender/Foto: Pixabay/Tumisu
Ilustrasi Kesetaraan Gender/Foto: Pixabay/Tumisu

Beauties, pengakuan akan eksistensi perempuan sebagai manusia merdeka nyatanya masih sering terbentur norma dan adat yang kaku. Perempuan masih sering diperlakukan tak ubahnya barang kepemilikan. Ketika masih menjadi hak milik orang lain, perempuan diharuskan untuk tunduk dan mengabaikan keinginan pribadinya.

Tidak hanya tunduk, beberapa oknum sengaja meyakinkan perempuan bahwa mereka terlahir sebagai pelayan yang bertugas menyenangkan hati pria. Untuk itu perempuan selalu dituntut untuk bersolek meski juga dituntut untuk mengerjakan semua urusan domestik sendirian.

Permintaan semacam ini tak ubahnya upaya perbudakan dengan kedok pernikahan dan norma-norma tertentu. Padahal, munculnya keyakinan semacam ini asal muasalnya adalah dari pihak-pihak yang berkepentingan dan memiliki kekuasaan yang takut digulingkan. Sebagai perempuan, kamu bebas melakukan apapun yang sesuai dengan hati nuranimu.

Menyenangakan hati orang terkasih adalah bentuk afeksi dan kebesaran hati, bukan serta merta kewajiban dan kodrat perempuan untuk melayani. Oleh karena itu, afeksi perempuan berhak untuk dibalas dengan afeksi yang sama. Perempuan punya hak untuk dihargai dan tidak pantas untuk diperintah selayakya budak, apalagi menerima kekerasan.  

Perempuan Dianggap Tidak Bisa Jadi Pemimpin yang Baik

Ilustrasi Pemimpin Perempuan/Foto: Pixabay/ Paul Leng
Ilustrasi Pemimpin Perempuan/Foto: Pixabay/ Paul Leng

Beauties, seberapa sering kamu mendengar mitos bahwa perempuan lebih mengedepankan emosi dalam bertindak dibanding dengan logika?

Popularitas mitos ini sampai telah mendarah daging menjadi stereotip bagi perempuan di seluruh dunia, dan mengakibatkan berbagai diskriminasi terutama berkaitan dengan peran publik.

Budaya patriarki sengaja menempatkan empati dan keanggunan perempuan sebagai bentuk kelemahan. Memiliki kepekaan sosial tinggi membuat perempuan dinilai bias dan tidak bisa bijak dalam menyikapi sesuatu. Hal ini sering dijadikan senjata untuk menghalangi perempuan menjadi seorang pemimpin karena dinilai tidak akan bisa tegas dan gegabah dalam mengambil keputusan.

Padahal, emosi dan empati yang dimiliki perempuan tidak serta merta membabi buta menjadikan mereka tidak paham logika. Buktinya, banyak pemimpin-pemimpin dunia yang merupakan perempuan dan sukses membawa perubahan baik bagi dunia. Justru, empati yang dimiliki perempuan bisa menjadi faktor kelebihan yang memberi perubahan baik bagi lingkungan, menjadikan ruang publik lebih manusiawi dan aman bagi perempuan, dan semakin menjunjung tinggi kesetaraan.

Itu dia 5 stigma negatif yang menghambat kemajuan perempuan di Indonesia. Kamu pernah mendengar stigma apa lagi, Beauties?

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE