sign up SIGN UP

Studi: Pekerja Perempuan Lebih Sering Disuruh Mengerjakan Tugas yang Tidak Membuatnya Dapat Promosi Jabatan

Nadya Quamila | Beautynesia
Kamis, 12 May 2022 23:30 WIB
Studi: Pekerja Perempuan Lebih Sering Disuruh Mengerjakan Tugas yang Tidak Membuatnya Dapat Promosi Jabatan
Ilustrasi pekerja/Foto: Freepik.com/pressfoto
Jakarta -

Berkat adanya kesetaraan gender, kini sudah banyak perempuan yang mendapatkan haknya untuk bisa mengenyam pendidikan serta berkarier di bidang yang diimpikan. Meskipun begitu, masih ada begitu banyak tantangan yang dialami pekerja perempuan, salah satunya kesenjangan upah serta 'pekerjaan rumah' di tempat kerja yang perempuan lakukan.

Istilah 'office housework' atau 'pekerjaan rumah' di tempat kerja mungkin masih terbilang baru. Istilah ini merujuk pada pekerjaan atau tugas di kantor yang tidak dapat membuat pekerja dipromosikan dan hanya menghabiskan waktu mereka. Misalnya seperti merapikan ruangan, menata kursi untuk rapat, mencocokkan jadwal karyawan untuk rapat, menulis catatan saat rapat, dan lainnya.

Menurut Harvard Business Review, beberapa pekerjaan tersebut memang penting, namun seringnya tidak dihargai dan tidak akan membuat pekerja tersebut mendapatkan promosi atau kenaikan gaji. Berdasarkan hasil riset, pekerja perempuan lebih mungkin menerima permintaan 'pekerjaan rumah' di kantor karena mereka kemungkinan besar akan menerimanya.

Emansipasi perempuan menjadikan posisi perempuan setara dengan laki-lakiIlustrasi pekerja/Foto: Pexels.com/pavel-danilyuk

Tidak bisa dianggap sepele, hal ini dapat memiliki konsekuensi serius bagi pekerja perempuan. Jika mereka dibebani secara tidak proporsional dengan pekerjaan yang memiliki sedikit visibilitas atau dampak, mereka akan membutuhkan waktu lebih lama untuk maju dalam karier mereka.

Sebuah buku berjudul The No Club: Putting a Stop to Women's Dead-End Work mengatakan bahwa 'pekerjaan rumah' di tempat kerja atau 'pekerjaan yang tidak dapat dipromosikan', adalah rintangan tak kasat mata bagi kesetaraan gender di tempat kerja. Waktu dan energi perempuan yang dikeluarkan untuk 'pekerjaan tanpa pamrih' tersebut terbuang sia-sia.

"Pekerja perempuan melakukan hal tersebut karena adanya ekspektasi yang diberikan," kata Lise Vesterlund, seorang profesor ekonomi di University of Pittsburgh, dilansir dari The Guardian.

Vesterlund dan ketiga rekannya yang menulis buku tersebut melakukan penelitian selama bertahun-tahun. Mereka menemukan bahwa di sektor publik dan swasta, dan berbagai peran, pekerja perempuan memikul beban "pekerjaan rumah tangga kantor" dan tugas bernilai rendah, menyebabkan mereka kehilangan promosi dan kenaikan gaji.

Sering merasa lelah bekerjaIlustrasi pekerja/Foto: Freepik/Diana.grytsku/ Foto: Raudiya Nurfadilah

"Kami pikir ini adalah bagian utama mengapa perempuan tidak maju dengan kecepatan yang sama dengan pria," kata Vesterlund. Menurutnya, ini menjadi masalah di berbagai industri dan profesi.

Analisis mereka tentang jam kerja karyawan di sebuah perusahaan konsultan besar menemukan bahwa terlepas dari senioritas, pekerja perempuan rata-rata menghabiskan sekitar 200 jam lebih banyak untuk pekerjaan yang tidak dapat dipromosikan setiap tahun daripada pria.

Menurut Vesterlund, ada dua alasan atas ketidakseimbangan ini. Pertama, perempuan diminta melakukan pekerjaan rumah kantor lebih sering daripada pria. Kedua, perempuan cenderung mengiyakan perintah untuk melakukan pekerjaan tersebut.

"Perempuan merasa bersalah ketika mereka mengatakan tidak, karena mereka diharapkan untuk mengatakan ya," ungkap Vesterlund.

"Selain itu, pria juga lebih strategis dalam pekerjaan yang tidak dapat dipromosikan yang mereka lakukan, memilih tugas yang akan memberi mereka akses dan koneksi," tambahnya.

Ilustrasi fokus dalam bekerja/ Foto: Freepik.com/thanyakij-12Ilustrasi bekerja/Foto: Freepik.com/thanyakij-12

Jika ketidakseimbangan ini tidak segera ditangani, maka ketidaksetaraan gender akan tetap ada. Bahkan ketika peraturan work from home atau bekerja dari rumah diberlakukan, yang sering dikaitkan dengan adanya fleksibilitas, usaha yang dilakukan perempuan juga kurang terlihat.

Sebuah survei Deloitte menemukan bahwa hampir 60 persen dari mereka yang bekerja dari jarak jauh merasa dikucilkan dari rapat. Sementara 45 persen mengatakan mereka tidak memiliki cukup komunikasi dengan para pemimpin atau atasan mereka.

Lantas, bagaimana solusinya? Vesterlund memaparkan, para atasan dan karyawan dapat berdiskusi agar bagaimana pekerjaan rumah kantor dapat didistribusikan lebih adil. Atasan dapat menetapkan tugas secara acak atau bergiliran, membaginya di antara beberapa karyawan, atau menyelaraskannya dengan tanggung jawab atau keterampilan yang ada.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id