sign up SIGN UP

Studi Ungkap Pekerja dari Kaum Gen Z Lebih Rentan Alami Burnout, Ini Penyebabnya!

Sherley Gucci Permata Sari | Beautynesia
Sabtu, 18 Jun 2022 16:00 WIB
Studi Ungkap Pekerja dari Kaum Gen Z Lebih Rentan Alami Burnout, Ini Penyebabnya!
caption

Generasi Z merupakan orang-orang yang lahir pada pertengahan tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an. Saat ini memang telah banyak studi menyebutkan bahwa generasi Z lebih rentan mengalami burn out, salah satunya saat bekerja. Burnout adalah kelelahan baik secara fisik maupun emosional yang umumnya berkaitan dengan masalah pekerjaan.

Melansir dari BBC, saat ini dilaporkan banyak pekerja muda yang mengalami kondisi burnout. Sebuah survei tahun 2021 dari sebuah  situs web pekerjaan menunjukkan pekerja milenium dan Gen Z mengalami tingkat kelelahan yang lebih tinggi, masing-masing sebesar 59 persen dan 58 persen.

Banyak faktor yang menyebabkan para pekerja dari kaum gen Z lebih rentan mengalami burnout di tempat kerja dibanding generasi lainnya. Lantas, apa saja faktor yang menyebabkan pekerja dari Gen Z lebih rentan mengalami burnout? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Pandemi COVID-19

Awal terjadinya pandemi kerja dari rumah menyebabkan burnot di kalangan pekerja
Work from Home/Foto: Freepik.com/freepik

Pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia sejak tahun 2020 telah memaksa banyak orang dapat beradaptasi dengan berbagai perubahan, termasuk dalam dunia kerja. Salah satunya adalah harus bekerja dari jarak jauh.

Melansir dari BBC, menurut penelitian dari Oracle's 2020 [email protected] menunjukkan bahwa 66 persen pekerja penuh waktu dari generasi Z yang bekerja sebelum masa pandemi melaporkan bekerja jam kerja yang lebih panjang dibandingkan sebelum pandemi. Sementara itu, generasi milenial hanya 59 persen dan generasi X hanya 48 persen. 

Menurut survei lainnya tahun 2022 yang dilakukan oleh platform manajemen kerja Asana yang berbasis di AS menunjukkan lebih banyak pekerja Gen Z yang melaporkan perasaan kelelahan daripada kelompok usia lainnya. Pandemi telah membuat para pekerja merasa tidak dapat membangun hubungan kerja yang efektif saat bekerja dari rumah. Selain itu, para pekerja juga mengaku kelelahan bekerja karena harus mengikuti meeting online sepanjang hari.

Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja yang toxic menjadi pemicu burnout
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/freepik

Lingkungan kerja yang tak sehat atau yang kerap disebut 'toxic' ini juga jadi pemicu burnout pada pekerja Gen Z. Mulai dari atasan yang semena-mena, rekan kerja yang menyebalkan, hingga aturan atau budaya kerja pada perusahaan yang membuat tak nyaman dan berujung pada kondisi burnout.

Bahkan faktor lingkungan kerja dapat diasumsikan menjadi faktor utama penyebab burnout pekerja dari kalangan gen Z. Sebab, hal ini sering dijumpai di media sosial, misalnya di akun-akun yang menampung curhatan pekerja. Lingkungan kerja yang tak sehat dapat menyebabkan kinerja seseorang menjadi turun.

Tekanan Pekerjaan

Melansir dari Daily Mail, sebuah perusahaan penasihat bisnis Trachet melakukan sebuah polling pada 2.701 orang dewasa Inggris untuk menemukan fakta mengenai tingkat kelelahan di tempat kerja. Polling tersebut menemukan bahwa orang yang lebih muda di tempat kerja mengalami tekanan yang luar biasa.

Bahkan hampir setengah dari orang yang mengikuti polling tersebut mengaku burnout disebabkan oleh tekanan dan tuntutan pekerjaan. Pada penelitian lainnya, kondisi burnout juga menyebabkan 28 persen pekerja dari generasi Z lupa kapan terakhir kali menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga karena tekanan pekerjaan.

Pendapatan

Gaji yang tak sesuai dengan pekerja juga menjadi pemicu burnout pada pekerja dari kalangan gen Z
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/benzoix

Persoalan finansial memang seperti menjadi sebuah ketakutan di kalangan gen Z. Dilansir dari BBC, menurut survei Deloitte tahun 2021 menunjukkan 41 persen dari milenial dan 46 persen responden Gen Z merasa stres sepanjang waktu tentang keadaan keuangan mereka. Sebab, banyak dari mereka yang merasa upah yang didapat tak sesuai dengan beban kerja yang dijalani. Ditambah lagi saat ini berbagai harga kebutuhan hidup yang makin mencekik para pekerja.

Menurut Hollingdale, seorang asisten profesor psikologi tamu di Universitas Pepperdine California, dan seorang psikoterapis berlisensi yang berspesialisasi dalam pemulihan kelelahan, ia menyebutkan bahwa penyebab yang satu ini lebih akut sekarang. Ia juga mengatakan bahwa pekerja dari kalangan Gen Z merasa tertekan untuk mengambil pekerjaan tambahan. Sebab hal ini dapat berpotensi meningkatkan kemungkinan burnout.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id