STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Diduga Lakukan Pelecehan Seksual terhadap Anak di Bawah Umur, Ini Profil Uskup Belo Peraih Nobel Perdamaian

Nadya Quamila | Beautynesia
Kamis, 29 Sep 2022 17:00 WIB
Diduga Lakukan Pelecehan Seksual terhadap Anak di Bawah Umur, Ini Profil Uskup Belo Peraih Nobel Perdamaian

Nama Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo asal Timor Leste baru-baru ini jadi sorotan publik. Pria yang di Indonesia dikenal dengan nama Uskup Belo itu diduga melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. 

Nama Uskup Belo sudah tidak asing lagi bagi warga Timor Leste, sebab ia merupakan seorang tokoh penting di negara tersebut. Ia adalah pemimpin gereja Katolik Roma terpandang di Timor Leste, dan menjadi pahlawan nasional dan harapan bagi rakyat. Bahkan, ia berhasil memenangkan Penghargaan Perdamaian Nobel 1996 bersama dengan José Ramos Horta untuk usaha mereka "menuju penyelesaian yang adil dan damai atas konflik di Timor Timur". 

Profil Uskup Belo

Uskup Belo lahir pada 3 Februari 1948 dan kini berusia 74 tahun. Ia lahir di Timor Leste yang saat itu masih menjadi jajahan Portugal. Dilansir dari De Groene Amsterdammer, ayahnya meninggal dunia saat ia berusia 3 tahun. Keluarganya harus menghadapi kehidupan yang sulit dalam kemiskinan. Sejak balita, ia sudah bekerja di ladang, dan terkadang berjalan selama 3 jam sehari untuk mendapatkan beras.

Uskup Belo mengenyam pendidikan di sekolah Katolik. Sebagai ketua kelas, ia dikenal cukup keras pada teman sekelasnya. Ia suka berdebat, teater, bermain sepak bola, hingga lagu-lagu romantis The Beatles.

Pada tahun 1968 ia meninggalkan Timor Leste untuk belajar di Portugal, di mana ia menyaksikan revolusi Anyelir yang mengakhiri kolonialisme Portugis. Ia lalu kembali ke Timor Leste, menjadi Salesian pada 6 Oktober 1974, dan mulai mengajar di Fatumaca.

(AUSTRALIA OUT) Bishop Carlos Filipe Ximenes Belo attends a press conference in the East Timorese capital, Dili, before returning to Mozambique, 28 October 2006. SMH Picture by GLENN CAMPBELL (Photo by Fairfax Media via Getty Images/Fairfax Media via Getty Images via Getty Images)Uskup Belo/ Foto: Fairfax Media via Getty Images/The Sydney Morning Herald

Pada tahun 1975, Belo sempat tinggal di Macau. Hingga tahun 1980, ia menghabiskan waktunya sebagai pendeta. Ia kembali ke negara asalnya tahun 1981, dan terkejut dengan kondisi masyarakat yang diliputi ketakutan, kemiskinan, dan perang yang kejam.

Pada tahun 1983, Paus Yohanes Paulus II memilih Belo sebagai kepala gereja di Timor Leste. Pada tahun 1988, Belo diangkat menjadi Uskup. Ini adalah posisi yang sulit dan menegangkan. Masyarakat yang putus asa akan peperangan yang sedang terjadi berbicara kepadanya, memberitahu bagaimana rumah mereka diserbu, hingga terjadi penyiksaan dan pembunuhan.

Sebagai seorang uskup, Belo aktif dalam membela hak dan kebebasan sebagian besar orang Timor Timur Katolik. Sebagai uskup yang dihormati, ia memiliki kebebasan untuk mengadvokasi rakyatnya.

Di tahun 1996, ia berhasil memenangkan Penghargaan Perdamaian Nobel 1996 bersama dengan José Ramos Horta untuk usaha mereka "menuju penyelesaian yang adil dan damai atas konflik di Timor Timur". Bisa dibilang, ia adalah salah satu tokoh penting yang berjuang membawa kemerdekaan bagi Timor Leste.

Namun pada November 2002, beberapa bulan setelah Timor Leste merdeka, Belo mengundurkan diri sebagai kepala gereja. Alasannya, ia mengatakan bahwa ia mengalami kelelahan fisik dan mental. Di tahun 2003, ia meninggalkan Timor Leste dan memulihkan diri di Portugal. Pada Juni 2004 ia menjadi asisten pendeta di Maputo, Mozambik.

Dugaan Pelecehan Seksual

Colour backlit image of the silhouette of a woman with her hands pressed against a glass window. The silhouette is distorted, and the arms elongated, giving an alien-like quality. The image is sinister and foreboding, with an element of horror. It is as if the 'woman' is trying to escape from behind the glass. Horizontal image with copy space.Ilustrasi/ Foto: Getty Images/iStockphoto/coldsnowstorm

Dari penelitian yang dilakukan De Groene, korban dugaan pelecehan Uskup Belo cukup banyak. De Groene telah berbicara dengan 20 orang yang mengetahui kasus tersebut, mulai dari pejabat, politisi, pekerja LSM, hingga orang-orang dari gereja. Menurut surat kabar tersebut, tuduhan pertama kali muncul pada tahun 2002, setelah Timor Timur memperoleh kemerdekaan. Namun, kasus tersebut tidak dipublikasikan.

Dugaan pelecehan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Dugaan kasus pelecehan yang menimpa beberapa korban mengacu pada tahun 90-an. Menurut penelitian De Groene, Uskup Belo juga melecehkan anak laki-laki sebelum dia menjadi uskup, di awal tahun 80-an, di desa Fatumaca.

Dilansir dari De Groene Amsterdammer, beberapa sumber mengatakan otoritas gereja telah membatasi perjalanan Belo. Dia sekarang tinggal di Portugal dan dia tidak diizinkan untuk bepergian atas inisiatifnya sendiri ke negara asalnya, dan terlebih dahulu harus meminta izin dari Roma.

Hingga saat ini, pihak Belo belum memberikan tanggapan soal dugaan pelecehan seksual yang menyandung nama uskup tersebut.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE