sign up SIGN UP

Marak Pelecehan Seksual di KRL, Pelaku Incar Penumpang Perempuan yang Sedang Tertidur

Nadya Quamila | Beautynesia
Senin, 18 Jul 2022 13:00 WIB
Marak Pelecehan Seksual di KRL, Pelaku Incar Penumpang Perempuan yang Sedang Tertidur
caption
Jakarta -

Aksi pelecehan seksual semakin marak terjadi di transportasi publik seperti kereta rel listrik (KRL). Dalam sepekan kemarin, ada dua aksi pelecehan seksual terhadap penumpang perempuan di KRL yang viral di media sosial.

Jika dilihat dari video-video yang beredar, pelaku mengincar penumpang perempuan yang sedang tertidur di KRL. Pelecehan tersebut terjadi pada Jumat (15/7) rute Bogor-Jakarta dan Sabtu (16/7) rute Duri-Jatinegara.

Kejadian pelecehan KRL Bogor-Jakarta diunggah oleh akun @txtdaribogor di Twitter. Dari video tersebut terlihat seorang penumpang perempuan tampak sedang tertidur. Di dekatnya, berdiri seorang pria mengenakan baju putih, celana abu-abu, dan topi merah. Awalnya ia tengah bersandar di pintu kereta.

Pria itu kemudian berjalan mendekati penumpang perempuan sembari memegang celananya, seakan hendak membukanya. Namun tiba-tiba penumpang perempuan tersebut terbangun dan melihat pelaku. Sontak, pelaku langsung memalingkan badannya dan kembali berdiri menghadap pintu kereta sambil memegang topinya.

Setelah mengetahui kabar tindakan asusila tersebut, petugas KAI Commuter segera melakukan pengecekan atas kejadian itu. Pelaku pun berhasil ditangkap.

Kemudian aksi pelecehan seksual selanjutnya terjadi pada Sabtu (16/7). Lagi, korbannya adalah penumpang perempuan yang sedang tertidur. Kejadian tersebut terjadi di KRL relasi Duri-Jatinegara. 

Video yang merekam kejadian pelecehan seksual tersebut viral di media sosial. Terlihat seorang pria duduk begitu dekat dengan penumpang perempuan yang tengah tertidur. Padahal, kondisi tempat duduk saat itu lengang, ada ruang yang luas untuk menjaga jarak bagi penumpang untuk duduk.

Ilustrasi kereta api.Ilustrasi KRL/ Foto: Getty Images/Mahardika

Terlihat bahwa salah satu tangan pelaku memegang tubuh korban. Awalnya, korban yang tampak tertidur pulas tidak menyadari tindakan pelaku. Namun kemudian ia terbangun dan menyadari pelaku duduk begitu dekat dengannya. Ia pun segera berpindah tempat dan diberitahu bahwa pria yang duduk di sampingnya sempat melakukan aksi pelecehan. Tak hanya itu, pihak yang merekam kejadian tersebut pun sempat mendapatkan ancaman dari pelaku.

KAI Commuter mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dugaan pelecehan seksual tersebut.

[Gambas:Instagram]

"KAI Commuter juga mendapatkan laporan dari pengguna KRL lintas Stasiun Duri-Stasiun Jatinegara yang merekam dugaan tindak pelecehan terjadap pengguna yang tertidur pulas dalam KRL. Pelaku turun di Stasiun Jatinegara setelah tindakannya diketahui oleh pengguna KRL lainnya," kata Manager External Relations & Corporate Image Care KAI Commuter, Leza Arlan, saat dikonfirmasi, dilansir dari detikNews.

"KAI Commuter siap memberikan dukungan penuh untuk melindungi dan mendampingi korban tindak pelecehan dalam melanjutkan kejadian tersebut ke proses hukum," tambahnya.

Pelaku Pelecehan Seksual di Transportasi Publik Bisa Dijerat UU TPKS

Colour backlit image of the silhouette of a woman with her hands pressed against a glass window. The silhouette is distorted, and the arms elongated, giving an alien-like quality. The image is sinister and foreboding, with an element of horror. It is as if the 'woman' is trying to escape from behind the glass. Horizontal image with copy space.Ilustrasi korban pelecehan seksual/ Foto: Getty Images/iStockphoto/coldsnowstorm

Para pelaku pelecehan seksual di transportasi publik bisa dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). UU TPKS memasukkan sembilan jenis kekerasan seksual yang bisa dijerat pidana, di antaranya pelecehan seksual non fisik dan fisik.

Dalam Pasal 5 UU TPKS, pelaku pelecehan seksual non fisik dapat dipidana hingga 9 bulan penjara dan denda paling banyak Rp10 juta. Pelecehan seksual non fisik sendiri kerap terjadi di ruang publik, termasuk di transportasi publik, misalnya seperti catcalling yang masih kerap terjadi. Pelecehan seksual non fisik sendiri meliputi pernyataan, gerak tubuh, atau aktivitas yang tidak patut dan mengarah kepada seksualitas dengan tujuan merendahkan atau mempermalukan.

Sementara itu untuk pelecehan fisik, sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU TPKS, pelaku dapat dipidana hingga 12 tahun penjara dan denda paling banyak Rp300 juta.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id