sign up SIGN UP

Alih-Alih Disiplin, 5 Perilaku Ini Justru Menjadi Toxic untuk Masa Pertumbuhan Anak-Anak

Lynisa Hidayah | Beautynesia
Kamis, 30 Jun 2022 18:30 WIB
Alih-Alih Disiplin, 5 Perilaku Ini Justru Menjadi Toxic untuk Masa Pertumbuhan Anak-Anak
caption
Jakarta -

Orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, tapi sering melupakan keinginan mereka. Alih-alih menunjukkan disiplin, perilaku ini justru membuat menjadi tidak nyaman dengan kita. 

Kalau hal ini sudah terjadi, justru kamu akan sulit mengambil hati mereka lagi. Sudah ada perbedaan pendapat yang membuat kalian jadi tidak akur lagi. Dihimpun dari Gen Mindful, perilaku orang tua berikut ini lebih baik kamu hindari, yuk simak!

Berlebihan dalam Memberikan Perhatian

Berlebihan dalam Memberikan Perhatian
Berlebihan dalam Memberikan Perhatian/Foto: pexels.com/Pixabay

Orang tua suka memberi perhatian berlebihan kepada anak-anaknya agar terhindar dari pengaruh toxic. Akibatnya, mereka merasa dikekang oleh orang tuanya sehingga jadi tidak berani mengutarakan pendapat dan sulit menentukan pilihan.

Walaupun hal ini dilakukan demi kebaikan mereka, tapi dalam diri anak bisa timbul akan timbul rasa takut dan merasa selalu diawasi dalam beraktivitas. Akibatnya mereka jadi tidak berani berkembang.

Marah Demi Kebaikan

Marah Demi Kebaikan
Marah Demi Kebaikan/Foto: pexels.com/Monstera

Menurut American Psychological Association, meluapkan emosi marah dengan anak jauh lebih berbahaya daripada memukul anak atau melakukan pelecehan seksual. Hal ini karena anak-anak punya memori tajam untuk mengingatnya hingga dewasa. Bahkan sakitnya tidak terasa tapi hati mereka jadi terluka.

Orang tua juga sering beranggapan bahwa memarahi anak adalah hal biasa, apalagi demi kebaikan agar disiplin. Padahal yang namanya marah bisa berdampak buruk untuk tumbuh kembangnya. Alangkah baiknya orang tua menahan emosi dan bersikap tegas saat menasehati anak-anaknya.

Malu Mengaku Salah

Malu Mengaku Salah
Malu Mengaku Salah/Foto: pexels.com/RODNAE Production

Orang tua kerap malu mengakui saat berbuat salah. Padahal, perlu disadari bahwa hidup ini tidak pernah lepas dari kesalahan. Menurut Brene Brown, seorang peneliti sosial menjelaskan bahwa rasa malu yang dialami anak bisa menurunkan rasa percaya diri mereka.

Perlu diketahui, malu dan salah itu berbeda. Malu berfokus pada perilaku saat melakukannya, sedangkan salah fokus pada perkataannya. 

Kalau dari lingkup mendidik anak, rasa malu menjadi kesempatan untuk mereka belajar dan bisa memahami emosi dan mental mereka. Namun, apabila rasa malu membuat anak-anak menjadi takut untuk mengaku salah, hal ini bisa menurunkan interaksi sosial mereka sehingga menimbulkan kecemasan dan depresi. 

Terlalu Melarang Anak

Terlalu Melarang Anak
Terlalu Melarang Anak/Foto: pexels.com/Pixabay

Pola asuh orang tua yang banyak melarang anak melakukan sesuatu membuat mereka jadi ketergantungan. Mereka juga butuh kebebasan, tapi tetap diawasi dan selalu diberi nasihat. 

Namun, sayangnya masih banyak orang tua yang takut anaknya kenapa-kenapa. Sehingga selalu mengatur apa pun yang dilakukan anaknya. Di sisi lain seorang anak juga butuh bermain dan mengasah kemampuan.

Mengontrol Seluruh Kegiatan Anaknya

Menontrol Seluruh Kegiatan Anaknya
Menontrol Seluruh Kegiatan Anaknya/Foto: pexels.com/Matheus Bertelli

Orang tua menganggap mereka bisa mengontrol anak-anaknya yang masih kecil, dengan membuat peraturan di rumah agar mereka disiplin dan bertanggung jawab. Boleh saja, asal selalu memberi kesempatan untuk bermain bersama teman-temannya.

Saat mengontrol anak-anak, orang tua sering menyamaratakan peraturan yang dibuat. Contohnya, orang tua memberlakukan aturan masa kecil ketika anak sudah beranjak dewasa.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(fer/fer)

Our Sister Site

mommyasia.id